My All Is In You (Chapter 1)

Author: nha_wina
Title : My All Is In You (Chapter 1)
Cast : 
  1. Kim Jong Woon (Yesung)
  2. Lee Shayna
  3. Kim Ji Hyeon
  4. Member SJ
Genre : Romance, Angst
Rating : PG-15
Length : Chapter
Catatan : FF ini juga dipublish di blog pribadi author https://nhawina.wordpress.com/
Selamat menikmati.. 

Jong Woon (Yesung) POV
Dorm Super Junior
Lagi-lagi ia tidak mengangkat teleponnya. Aku menatap layar ponsel yang menampilkan fotonya bersamaku. Yeoja cantik yang sudah hampir dua tahun menjadi kekasihku, Kim Ji Hyeon. Kecantikannya, keseksiannya, dan pesonanya terkadang membuatku takut. Takut dengan semua yang ia punya itu, ia gunakan untuk menggoda pria lain, seperti yang sering dikatakan para member Suju. Bukan aku tak percaya pada yeojaku sendiri, hanya saja kemungkinan itu pasti ada kan?
“Yesung-a, ayo kita makan malam bersama!” ajak Leeteuk hyung sambil memijat bahuku sesaat. Tak lupa memamerkan dimpleyang dipuja banyak wanita diluar sana saat ia tersenyum.

Wangi masakan yang dibuat Ryeowook menggelitik hidungku. Aku pun melihat jam dinding di atas TV yang sudah menunjukkan angka 19.00 KST. Ya Tuhan, sepulangnya kami dari Shanghai tadi, aku sudah berada di dormselama 2 jam. Seharusnya aku langsung pulang saja tadi. Toh, hal yang dibicarakan untuk album terbaru kami hanya berjalan dengan serius selama tidak lebih dari 5 menit. Malah akan dibicarakan dengan serius dan lebih rinci besok. Pantas saja Siwon dan Donghae langsung kabur setelah setengah jam berada di dorm. Sedangkan aku ikut bercanda dengan member lainnya dan malah sibuk mencoba menelepon Ji Hyeon. Aku teringat janjiku pada eomma dan appa untuk makan malam bersama di rumah jam setengah 8. 
Tanpa berpikir panjang aku mengambil tas ransel dan topi kesayanganku yang kudapat dari sahabatku. Ani, dia sudah ku anggap sebagai adikku sejak aku berusia 14 tahun. Lee Shayna. Gadis
yang luar biasa cantik dengan wajah asia blasteran, pintar, namun terlalu rendah hati karena terlalu tidak percaya diri. Tapi ia sanggup menemanikku belanja jika penyakit gila belanjaku kumat, serta tentu saja menjadi pendengar yang sangat sangat baik ketika aku bercerita berjam-jam padanya, walaupun hanya melalui telepon. Aish, memikirkan itu membuatku semakin merindukannya. Sudah hampir 4 tahun kami tidak bertemu karena ia kuliah di negara asal bundanya, Indonesia.

“Aku akan makan malam di rumah. Anyeong!” Aku pun berpamitan pada para member dan melajukan mobilku dengan kecepatan penuh, agar tidak terlambat dan membuat kedua orangtuaku kecewa.

Kim Jong Woon’s Family Home
 “Hyung! Kau terlambat 40 menit! Ayo cepat masuk ke dalam mobilku!”

Aku baru saja mengunci pintu mobil, tetapi tanganku langsung ditarik paksa oleh Jong Jin, adikku. Aku pun dipaksa duduk di jok mobil hitamnya.

Ya! Bukankah kita akan makan malam bersama? Bahkan aku belum menyapa eomma dan appa, Jong Jin-a!” protesku saat ia melajukan mobilnya ke arah jalan raya dengan kecepatan penuh.

Jong Jin menatapku sekilas dan memberi cengiran bandelnya. “Eomma dan Appa  tahu bahwa kau sudah pulang dari suara mobilmu tadi hyung. Lagipula ada hal penting yang harus kita kejar. Aku takut kita terlambat.”

Sial, tahu begitu aku makan dulu saja tadi di dorm, pikirku. “Terlambat untuk apa?” tanyaku mencoba sabar menghadapi tingkah laku adikku yang tiba-tiba menyebalkan.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia malah menekan pedal gas dan meningkatkan kecepatan. “Aku sedang konsentrasi menyetir, hyung. Diam sajalah dulu.”

Dasar bocah sok tua! Aku hanya dapat menahan umpatanku dan tanganku yang hendak memukul kepalanya. Aku pun menyalakan musik, untuk meredam rasa kesal dan laparku. Sungguh, aku belum makan apa-apa setelah konser di Shanghai sampai dengan datang lagi ke rumah. Aku hanya dapat mengelus perutku yang mungkin sebentar lagi berbunyi nyaring.
Incheon Airport (21.45)
Aku terpaksa membuka mataku saat kurasakan guncangan hebat di bahuku. Jong Jin sedang berusaha membangunkanku. Baru saja aku benar-benar sadar, aku sudah ditarik keluar mobil oleh adikku yang bertingkah sangat menyebalkan hari ini. Lapangan parkir? Tunggu, rasanya aku baru saja berada disini beberapa jam yang lalu. Hanya saja sekarang sudah malam dan gerimis. Aku melihat gedung di seberangku. Bandara Incheon? Mwo? Belum selesai keterkejutanku, Jong Jin sudah menarikku sambil mengomel dan memberiku kacamata hitam, masker, serta topi untuk menyamar. Kulihat ia juga ikut memakai peralatan penyamaran. Dasar, memangnya ia seterkenal aku?

“Kenapa kau lamban sekali sih hari ini? Kita sudah terlambat lebih dari 20 menit, hyung. Aku takut ia sudah pulang sendiri, karena ia tidak tahu kita akan menjemputnya.” Gerutu Jong Jin.

Aku benar-benar tidak tahan untuk memukul kepalanya sekarang.

“Shayna, hyung, Shayna. Kau cari ke arah sana, aku ke arah sini. Mungkin saja ia masih di bandara bukan? Aku akan menelepon Bunda sambil mencari.”

Belum sempat aku menjawab, Jong Jin sudah berlari ke arah kiri. Aku masih memikirkan kata-kata Jong Jin tadi. Apa tadi katanya? Shayna? Di bandara? Dia pulang? Aigoo! Tanpa sadar jantungku berdegup kencang. Aku pun berlari cepat sambil memikirkan tempat yang mungkin sedang Shayna kunjungi. Gerimis sudah berubah menjadi hujan yang lumayan lebat di luar sana. Tanpa sadar mataku melirik sebuah coffee shop. Kopi, kue, teh, hujan. Otakku bekerja dengan cepat. Ya! Aku masuk ke dalam kedai kopi tersebut dengan penuh percaya diri. Aku pasti lebih dulu menemukan peri kecil itu, Jong Jin-a. Kkkk…

Aku memperhatikan satu persatu pengunjung. Tetapi lebih spesifik pada pengunjung yang duduk di dekat jendela. Ah! Yeoja di pojok kiri kedai kopi ini memiliki rambut khas Shayna. Ikal gantung berwarna hitam kecoklatanalami. Hanya saja sepertinya lebih panjang dari terakhir aku bertemu dengannya. Aku tidak tahu pasti, karena rambut indah itu dikuncir tinggi oleh pemiliknya, memperlihatkan sedikit punggung dan leher putih susu yang jenjang. Sebenarnya ia duduk disamping jendela, hanya saja badannya berada di posisi miring agar lebih leluasa menghadap jendela yang menampilkan rintikan hujan. Jika ia sedikit saja menengok, aku dapat melihat wajahnya. Aku pun berjalan dan duduk tepat beberapa bangku dihadapannya.

Aku melepas masker dan menyesap kopi pesananku. Instingku mengatakan wanita dihadapanku itu pasti Shayna. Tapi perubahannya sangat cepat. Lihat saja penampilannya saat kulihat dari depan. Ia memakai hot pants warna hitam dan baju lumayan ketat berkerah sabrina berwarna biru muda. Pakaian yang sangat menonjolkan bentuk tubuhnya yang sudah berubah banyak. Tetap manis, namun kenapa sekarang ada kata sexy dikepalaku? Ya Tuhan, Shaynaku sudah dewasa. Pertumbuhan yang sangat cepat, sepertinya baru kemarin aku mengenal bidadari mungi ini saat ia berusia 7 tahun dan tiba-tiba ia sudah menjadi seorang bidadari yang sempurna. Membuatku ragu apakah ia benar-benar Shaynaku.

Seperti menjawab keraguanku, wanita itu menoleh sedikit untuk melihat handphone di meja nya. Lihat mata besarnya yang berwarna coklat! Ya, Sudah pasti itu Shayna. Aku beri tahu ya, matanya sangat unik, sehingga siapapun dapat mengenali Shayna hanya dengan melihat mata indahnya. Tetapi dibalik semua kecantikannya, ada dua hal yang menurutku kurang. Pertama, hidungnya tidak mancung, dan yang kedua, tubuhnya sangat mungil. Mungkin jika ia berdiri tanpa menggunakan heels, ia akan sama tingginya dengan dadaku. Ah, atau mungkin kurang? Haha.. Tapi itulah yang membuatku memanggilnya peri kecil. Atau terkadang peri hujan, mengingat kecintaannya terhadap hujan.

Dengan semangat aku menghampirinya. Beberapa langkah lagi untuk sampai padanya, tapi ia sudah beranjak dari kursi, membawa koper besar dan tasnya. Aku pun berlari kecil dan menahan kopernya dengan tangan kiriku. Tangan kananku refleks memeluk pingganya dan menarik badan mungilnya ke dalam dekapanku. Memeluknya dari belakang. Aku merasakan ketegangan tubuhnya. Ia berusaha melihat ke atas, namun wajahku terhalang kacamata hitam dan topi. Tangan kecilnya berusaha membuka kacamata hitamku. Setelah ia berhasil dan melihat wajahku sekilas, aku segera menyembunyikan wajahku di atas kepalanya. Lebih tepatnya mencium puncak kepalanya. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku sangat merindukannya. Sangat sangat merindukan adik kecilku ini.

“Akhirnya aku menemukanmu, peri hujan.” Bisikku.

Shayna menghela nafas pelan, dan mengelus tanganku yang memeluknya dari belakang. “Jong Woon oppa.” Sapanya dengan suara lembutnya yang sudah lama tidak kudengar secara langsung.

Aku pun membalik badannya dan memeluknya dengan erat. Lagi-lagi kepalaku hanya dapat menunduk dan menyentuh puncak kepalanya. Untung saja topi ku masih dapat menutupi wajahku di tempat ramai ini. “BogosipheoNa-ya. Neomu neomu bogosipheo.” Aku mengeratkan pelukanku.
Tidak bisa menyembunyikan kerinduanku yang teramat sangat pada gadis satu ini. Tetapi anehnya Shayna tidak membalas pelukanku seperti biasanya. Hanya ketegangan yang kurasakan dari tubuhnya.

Wae? Kau tidak merindukanku?” tanyaku sedikit melonggarkan pelukanku. Aku memajukan bibirku, merajuk seperti anak kecil.

Shayna menggeleng dalam dekapanku. “Ani. Aku lebih merindukanmu oppa.” Jawabnya sambil memelukku dengan erat.

Jantungku semakin berdegup kencang, refleks aku pun mengeratkan pelukannya. Ada keinginan untuk tidak pernah melepaskan pelukannya. Satu keyakinan, aku tidak ingin dia pergi jauh lagi. Entahlah, mungkin karena aku sangat sayang pada adik kecilku ini.

“Bagaimana bisa kita bertemu disini?” tanyanya dengan polos dan melepaskan pelukanku.

Aku tertawa mendengar pertanyan bodohnya. Aku sudah tahu dari awal, ia akan menanyakan pertanyaan bodoh ini. Kami pun duduk di tempat ia duduk tadi. “Kau masih saja bertanya. Tentu saja untuk menjemputmu. Aku dan Jong Jin terlambat menjemputmu. Kami pun berpencar untuk mencarimu. Tapi karena aku kakakmu yang terbaik, ketika melihat hujan dan kedai kopi aku pun teringat hobi mu. Kau senang melihat hujan, jadi kupastikan kau masih ada di bandara. Kedai kopi. Tempat dimana kau bisa memesan teh juga. Minuman kesukaanmu. Aku hanya memperhatikan orang-orang yang duduk sendiri di dekat jendela. Karena kamu pasti memilih tempat di dekat jendela agar dapat bebas melihat hujan. Dan ternyata kesimpulanku benar.” Jelasku panjang lebar.

Shayna tertawa mendengar penjelasanku. Aigoo. Tawa yang sudah lama tidak ku dengar. “Ne, Jong Woon oppa ku memang paling daebak! Tapi dimana Jong Jin oppa?”

Aku pun teringat pada Jong Jin. Seharusnya aku memberitahunya saat aku sudah menemukan Shayna. Tetapi mengingat tingkahnya yang menyebalkan tadi, aku ingin mengerjainya sedikit. Lagi pula perutku sudah berteriak minta diisi. “Na-ya, temani aku makan dulu di restoran terdekat. Aku sangat lapar. Kau tahu? Sudah hampir 10 jam aku tidak makan!” kataku dengan tatapan memelas, tanpa menjawab pertanyaan Shayna tadi.

Shayna melotot dan mulai mengomel, “Kau belum makan dari tadi siang? Ya Tuhan! Aku sudah sering bilang untuk menjaga pola makanmu oppa. Perutmu sangat sensitif. Pekerjaanmu juga banyak. Kamu tidak mau kehilangan pekerjaanmu karena kau jatuh sakit bukan? Ayo cepat kita cari tempat makan!” omelnya sambil menarik tanganku.

Hahaha.. Aku merindukan omelannya yang satu ini, dan juga aku puas karena rencanaku untuk membuat kesal Jong Jin berhasil serta perutku akan segera terisi!
TBC
Advertisements

Comments are closed.